OPINI

Perlunya ADAB dalam ‘Adat’ SHARE dan COPY PASTE

Animo utama dalam selayang pandang penulis pada tulisan kali ini ialah bermanfaat bagi segenap insan sehingga halal bagi para pembaca untuk menyebarluaskan atau menyalin tanpa adanya izin terlebih dahulu. Namun, penulis merasa, menjadi hamba yang fakir dan tentunya bukanlah seperti sosok Nashir al-Sunnah al-Imam Muhammad bin Idris al-Syafi’i yang mengatakan, “Ku ingin seluruh ilmuku tersebar ke seantero dunia tanpa perlu adanya sedikitpun penisbatan padaku”, dan penulis juga secara manusiawi sadar bahwa ia berpotensi besar memiliki sifat ‘kotor’ untuk tetap ingin pencantuman sumber darimana sebuah ilmu berasal. Benarlah adanya memungkinkan perkataan “gak ikhlas!”, “pamrih!”, “ngarep pujian!”, “pamer!” dan lain sebagainya, namun penulis tetap mengucapkan terimakasih apabila pembaca berkenan menyebarluaskan guratan yang akan penulis sajikan, dan tentunya juga akan tetap ‘berusaha serta mengupayakan’ menuntut dirinya untuk ikhlas dan rela.

Penulisan postingan ini dirasa perlu, kenapa ? “Tentunya sebagai ajang pengingat kedudukan seperti yang telah kita ketahui bersama, bahwa di dalam Islam الأدب فوق العلم sudah bukan berita baru lagi, terutama di kalangan mahasiswa-mahasiswi PAI, ujar Rachmad, Mahasiswa PAI aktif selaku pengarang asli tulisan ini.

Mengambil tulisan Lora Ismail al-Kholili bahwa diharuskan untuk tahu etika dan aturan dalam menukil sebuah ilmu, yakni tertuang dalam Bustan al-Arifin, al-Imam Muhyiddin bin Syaraf al-Nawawi,

ومن النصيحة: أن الفائدة التي تستغرب إلى قائلها, فمن فعل ذلك بورك له في علمه وحاله, ومن أوهم ذلك وأوهم فيما يأخذه من كلام غيره انه له: فهو جدير أن لا ينتفع بعلمه, ولا يبارك له في حاله, ولم يزل أهل العلم والفضل على إضافة الفوائد إلى قائليها, نسأل الله تعالى التفيق لذلك دائمًا

“termasuk bagian dari nasihat yaitu menisbatkan faidah yang jarang di dengar kepada orang yang mengatakannya (baik lisan atau tulisan). Siapa yang melakukan hal itu (menisbatkan suatu faidah atau ilmu kepada sumbernya) maka ia akan diberkahi ilmu dan keadaannya, dan barangsiapa yang menukil kalam orang lain dan membuat orang lain mengira bahwa itu adalah kalamnya sendiri maka tidak akan bermanfaat ilmunya dan tidak akan barokah keadaannya. Para ahli ilmu sejak dulu selalu menisbatkan suatu faidah kepada sumbernya”1

Kemudian terukir dalam Tafsir al-Qurthubi, al-Imam Muhammad bin Ahmad al-Qurthubi,

وشرطي في هذا الكتاب: إضفة الأقوال الى قائليها, والأحادث الى مصنفيها, فإنه يقال: من بركة العلم أن يضاف القول الى قائله

“prinsipku dalam kitab ini adalah menisbatkan suatu ucapan kepada orangnya dan hadits-hadits kepada kitab referensinya, karena dikatakan: termasuk hal yang bisa membuat ilmu menjadi barokah adalah menisbatkan suatu ucapan kepada sumbernya”2

Lalu termuat dalam Majmu’, al-Imam Abdurrahman bin Yahya al-Mu’allimi al-Yamani,

قيل إن كان فائدة لم تسند إلى صاحبها فهي لقيطة كالطفل المنبوذ الذي لا يعرف أبوه في المنتسبين

“Dikatakan bahwa setiap faidah atau ilmu yang tidak disandarkan kepada sumbernya maka ia bagaikan anak kecil yang terlantar tidak diketahui siapakah orang tuanya”3

Adakah untukmu, wahai manusia, menisbatkan sesuatu pada sesamanya suatu hal yang berat?! Lalu bagaimana dengan kisah ini? Coba simaklah kebaikan yang dapat kita tuai didalamnya,

Suatu hari terdapat seorang alim tersohor, kita mungkin mengenalinya dan tak asing lagi bagi telinga, namanya mencuat dalam khazanah keilmuan Islam, ia-lah Imam Ibnu Arabi. Sang imam terombang-ambing oleh ayunan ombak laut, sehingga dia berkata “wahai laut, tenanglah, ketauhilah diatasmu terdapat lautan ilmu!”, lantas –bi idznillah– laut menjadi tenang. Tak selang berapa lama muncullah seekor ikan dan berkata atas izin-Nya, “adakah dirimu wahai tuan lautan ilmu tersebut?”, “Ya” jawab sang imam alim, “jikalau begitu, jawablah pertanyaanku ini” timpal ikan, “ya, tentulah, bila ku dapati jawabannya” sahut alim. Ikan melanjut cakap tanyanya, “bila seorang suami dikutuk, iddah apa yang berlaku untuk istrinya?”. Seketika Ibnu Arabi terdiam. Si ikan pun menyahut “dapatkah kau mendapati sebuah jawaban?”, “Apa jawaban atas (pertanyaan) itu?”, Timpal si alim. “Ku jawab, namun dengan syarat, sudilah kau menulis bahwa aku, si ikan, sebagai salah seorang syaikh dalam rangkaian nama para guru yang kau timba ilmunya” balas ikan, dengan sigap pun dijawab “Ya, tentu (sudilah aku ‘tuk menulisnya)”. Si ikan melanjutkan penjelasan dari jawabannya, “Bilamana seorang tersebut dikutuk menjadi makhluk (hewan) maka berlakulah untuk istrinya iddah talak, namun apabila seorang tersebut dikutuk menjadi benda mati (batu) maka berlakulah iddah ditinggal atasnya kematian suami”.

Kami-pun mengutip al-Imam Syamsuddin Abul Khair Muhammad al-Sakhawi dalam al-Maqashid al-Hasanah fii Bayaan Katsiir min al-Ahadits Musytahirah ‘ala al-Sunnah, yaitu

خذ الحكمة ولا يضرّك من أيّ وعاء خرجت

“Ambillah hikmah, tidak akan memudharatkanmu (membuatmu rugi), darimanapun ia berasal”4

Tak lupa, sampai ke telinga kita seorang sufi masyhur, Bayazid, dalam dunia Tasawuf dikenalnya, atau kondang dengan Abu Yazid al-Busthami, yang makamnya merupakan tempat berjumpanya pelawat sunni dan syiah tanpa adanya syak kedua belah pihak. Ingatkah kisah anjing dengan air mata seorang sufi Abu Yazid al-Busthami?!5 Yang dari sejarah itu dapat diambil pesan,

خذ الحكمة ولا يضرك من أيّ وعاء خرجت ولو كان من فم الكلب

“Ambillah hikmah, tidak akan memudharatkanmu (membuatmu rugi), darimanapun ia berasal walaupun keluar dari mulut seekor anjing”

Tazkiyah al-nafs dari seekor ikan dan anjing. Lalu, masihkah ingin mengutip karya dengan mengatasnamakan hasil pribadi? Atau menunggu Tuhan kirimkan makhluk untuk menuliskan bahwa salah satu seorang ‘penunjuk’mu adalah seekor hewan?

Dari coretan agung para ulama kita, dapat diambil pelajaran bahwa perlunya mencantumkan sumber merupakan amanah dalam menukil sebuah ilmu dan inilah alasan utama, merupakan bentuk penghargaan dan pertanggungjawaban pada seorang  penulis atas hasil berputarnya otak dan waktu yang telah disisihkan, merupakan bentuk dorongan serta partisipasi menanggulangi merebaknya plagiasi, dan merupakan bentuk pengantisipasian dan peninjauan dari rusaknya kaidah berilmu pada ahli dari fan-fan ilmu yang berkaitan.

Jangan jadikan sebuah ‘adat’ buruk yang hanya dianggap hal lazim dan lumrah yaitu menukil tanpa mengaitkan sumber yang dipetik.

Jadi, gimana readers menanggapi perihal copy paste and share tanpa mengikutkan sumber? Ada opini lain atau setuju aja nih dengan pendapat penulis? Sampaikan, jangan sampai pemikiran-pemikiran emasmu menjadi berkarat karena hanya di diamkan tanpa di utarakan. Ehe. Semoga bermanfaat.

Wallahu a’lam.


CATATAN KAKI

1] Muhyiddin bin Syaraf al-Nawawi, Bustan al-Arifin lin-Nawawi (al-Maktabah al-Syamilah), 15-16.

2] Muhammad bin Ahmad al-Qurthubi, Tafsir al-Qurthubi, Juz I (al-Maktabah al-Syamilah), 3.

3] Abdurrahman bin Yahya al-Mu’allimi al-Yamani, Atsar al-Syaikh al-Allamah Abdurrahman bin Yahya al-Mu’allimi al-Yamani, Juz I (al-Maktabah al-Syamilah), 49.

4] Syamsuddin Abu al-Khair Muhammad al-Sakhawi, al-Maqashid al-Hasanah fii Bayaan Katsiir min al-Ahadits Musytahirah ‘ala al-Sunnah (al-Maktabah al-Syamilah), 311. Dalam Fahmina Institute Buya Husein Muhammad dalam Fahmina Institute: Ilmu dan Hikmah

5] Jika pembaca belum pernah mendengar kisahnya dari guru ataupun buku sejarah Islam, silakan klik Kisah Anjing dan Air Mata Abu Yazid al-Busthami

Penulis : Rachmad Hidayat

Editor   : Admin Ve

Yuk stay tune untuk informasi menarik lainnya ..
———————————————
⬇️ Kepoin + Support Kami di sini ⬇️
IG : @hmppaiftk_uinsa
FB : hmppaiftkuinsa
Web : hmppaiftkuinsa.or.id
Yt : HMP PAI UINSA OFFICIAL
———————————————

🌸 Salam PAI 🌸
Intelektualis. Agamis. Humanis.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *