SEKILAS INFO

HADHARA MAUT

Dinukil dari penjelasan Habib Abdul Qadir Ba'abud dalam Daurah Shaifiyah (2020), setelah Allah Swt. menghancurkan kaum Nabiyullah Shaleh a.s., beliau berhijrah bersama orang-orang yang terpilih atasnya iman tauhid. Beliau a.s. bersama rombongannya terus menapaki padang pasir yang jauh hingga sampailah di suatu tempat dan berakhir wafat disana. Demikianlah tempat tersebut bernama Hadhara Maut (حضر موت).

Pendapat al-Mubarrad, Abi Abbas Muhammad bin Yazid (wafat pada tahun 285 Hijriyah), bahwa asal muasal nama Hadramaut adalah julukan atas amir (kakek moyang bangsa Yaman). Hal ini disebabkan beliau adalah seseorang yang tidak hadir saat peperangan melainkan disitu ia telah membunuh banyak orang, sehingga saat para prajurit melihat kepada amir tersebut mereka berkata “telah datang ajal bagi kita”. Hebatnya dalam peperangan inilah beliau berjuluk Hadhara Maut.

Hadramaut, berjuluk Waadii bin Rasyid, penisbatan kepada Ibn Rasyid. Ibn Rasyid, bernama asli Abdullah bin Rasyid bin Abi Qahtan al-Himyari, seorang raja yang dilahirkan di Kota Tarim tahun 553 Hijriyah dan meninggal pada tahun 612 Hijriyah. Beliau meninggal dalam keadaan terbunuh saat perjalanan hendak mendamaikan dua kabilah yang sedang dirundung pertikaian. Mengapa penisbatan lembah ini pada beliau? Hal ini dikarenakan beliau adalah seorang raja sekaligus faqih (alim fikih). Para kaum shalihin pada zamannya memujinya dengan berkata

 وكان فقيها, أديبًا, عالمًا, تقيًا, عادلًا, ومن بعض محديثا,

“sesungguhnya ia adalah orang  faqih, beradab, alim, bertaqwa, adil dan termasuk dalam ahli hadis”.

Raja Abdullah pada masa tua-nya lebih memilih untuk banyak duduk bersama kaum saleh. Diriwayatkan kemapanan pemerintahan beliau tercermin pada ucapannya sebagai berikut.

وكان يقول في بلادي ثلاث خصال افتخر بها على السلاطين. الأولى لا يوجد فيها حرام, الثانية لا يوجد فيها سارق, الثالثة لا يوجد فيها محتاج

di daerahku ada tiga perkara yang aku banggakan diantara raja-raja yang lain. Pertama, tidak ada didalamnya perkara yang haram. Kedua, tidak ada didalamnya pencurian. Ketiga, tidak ada didalamnya orang-orang miskin1

Kisah lain mengenai lembah di Negara Yaman ini di ulas juga dalam Kitab al-Fawaid al-Saniyyah (silakan klik dan unduh), ta’lif oleh Sayyid Ahmad bin Hasan bin Imam Abdullah bin Alwi al-Haddad.Dikatakan, Hadramaut telah ada satu abad sebelum adanya Islam. Alkisah ada seseorang di Hadramaut yang menemukan sebuah daerah tersembunyi di lembah tersebut. Ia berjalan menuju pedalaman dan menemukan keranjang serta biji gandum yang masih berada pada tangkainya. Biji gandum tersebut memiliki ukuran sebesar telur ayam yang membuatnya takjub keheranan. Dia mencari orang sekitar dan saat itu terdapat tiga orang, pertama berumur agak muda, kedua berumur agak tua dan ketiga berumur tua. Dia mulai berjalan mendatangi tiga orang tersebut sehingga diketahuinya bahwa mereka berumur 500 tahun, 400 tahun dan 300 tahun, mereka adalah seorang kakek, seorang ayah dan seorang cucu. Ia pergi mendatangi pemilik umur 300 tahun yang dimungkinkan lebih paham terhadap pembicaraan. Dalam riwayat tersebut dituliskan bahwa orang berumur 300 tahun itu sudah tak dapat dikatakan berakal dan tidak dapat mengerti lagi antara kebajikan dan keburukan. Lalu ia pun berkata “bila yang lebih muda sudah tak lagi sadar, lalu bagaimana halnya dengan yang berumur lebih tua darinya?”, ia pun meneruskan keinginannya untuk menemui pemilik umur 400 tahun. Saat ia menemuinya dan mulai bercakap dengannya, ia pun mengetahui bahwa orang tersebut lebih paham daripada sebelumnya. Kemudian ia menemui pemilik umur 500 tahun, diketahuinya bahwa orang tersebut lebih berakal dan paham. Penasaran dengan kejadian tersebut, ia pun bertanya ingin tahu pada si tua dan dijawabnya,

Ketahuilah, yang berumur 400 ialah anakku dan yang berumur 300 ialah cucuku. Cucuku, ia memiliki istri yang berperangai buruk, tak pernah mendengarkan suaminya, tidak lagi dapat diatur dan menjadi beban bagi hidupnya, sampailah di masa tua habis akalnya. Anakku, ia memiliki istri yang terkadang patuh namun adakalanya tidak demikian, itulah yang menguras pikirannya, sampailah di masa tua akalnya hanya setengah. Dan aku sendiri, aku memiliki istri yang selalu patuh dan menolong di setiap urusan yang ku miliki, sampailah padaku kepahaman dan akal yang selamat.

Setelah mengetahui kejadian tersebut, ia kembali melanjutkan pertanyaan pertama mengenai biji gandum sebesar telur ayam yang masih ditangkainya. Dijawablah oleh sang kakek,

هذا زرع قوم من الأمم الماضية, كانت ملوكهم عادلة, وعلماؤهم أمناء, وأغنياؤهم أسخيء, وعوامهم منصفة

Ini adalah tanaman dari umat yang terdahulu, di daerahku ini memiliki empat keistimewaan, yaitu memiliki pemimpin yang adil, memiliki banyak orang alim yang amanah, memiliki orang-orang kaya yang dermawan dan orang-orang awamnya memiliki rasa malu untuk tidak menjulurkan tangan.”

Dari penuturan kisah inilah dikisahkan pada zaman yang telah lalu di wilayah Hadramaut bila ada orang yang berada dan berharta memberikan kepada yang kurang mampu ia akan berkata,

خذ لالك

dengan maksud ambillah sedekah ini dengan hakikat tidaklah untukmu melainkkan yang kelak akan kembali padaku (si pemberi), dibalas

هات لا منك

berikanlah sedekah ini dengan hakikat tidaklah milikmu melainkan dari Allah dengan perantara dirimu.

 , وفقيرهم حرّ وذالمال منفقون

para fakir merasa berlapang-lapang dan pemilik harta yang bercukupan mulia hati menderma. Pada waktu yang telah lalu para shalihiin berkunjung ke Hadramaut dikatakan,

مررتُ بوادي حَضرَمَوتَ مسلّمًا, فألفيتهُ بالبشر مبتسمًا رحباًفألقيتُ فيه من جهابذة العلا, أكابر لا يُلقون شرقًا ولا غربًا

aku melewati lembah Hadramaut kutemukan penyambutan dengan wajah berseri dan kutemukan didalamnya para tokoh ulama cendekiawan besar yang mereka tak bisa kudapati di timur maupun barat3

Hadramaut sendiri mendapat julukan وادي احقاف, yang berarti gunung batu. Sehingga, para tokoh alim agama disana berjuluk امام وادي احقاف.

Saat membahas Hadramaut, tak lepas dari kita mengenai nama dua kota terkenal disana yakni Tarim dan Syibam. Dikatakan, bahwa Tarim dan Syibam adalah putra dari raja yang berkuasa disana, Raja Hadramaut. Ketika Tarim tinggal di sebuah daerah maka melekatlah namanya sehingga dikenal dengan nama Kota Tarim, begitu pun dengan Kota Syibam.

Kota Tarim, banyak dan lazim bahwa kota tersebut penuh dengan berkah. Keberkahan tersebut mashur terdapat di tiga tempat, masjid jami’, pemakaman serta lembah-lembah dan pengunungan yang disebabkan oleh banyaknya khalwat dan ibadah yang dilakukan disana.

قوم كرام السجايا حيثما جلسوا يبقى المكان على اثارهم عطرا

mereka adalah sekelompok orang yang dipenuhi dengan perangai mulia, dimanapun saja mereka duduk maka akan membekas wewangian ilmu yang semerbak membuat hati tenteram bagi yang menciumnya”

Dikatakan oleh al-Imam Muhammad bin Abi Bakar asy-Syilli, pengarang kitab Masyra’ al-Rawi bahwa Kota Tarim memiliki banyak nama. Kita tahu bahwa banyaknya nama julukan menunjukkan agungnya sesuatu tersebut. Kota Tarim memiliki julukan al-Ghanna’, hal ini dikarenakan banyaknya pohon dan sungai yang indah. Namun pastilah kita berpikir “kenyataannya disana hanyalah padang pasir yang panas”, demikianlah adanya yang disebabkan oleh ditutupnya sumber air disana oleh Ma’n bin Zaidah asy-Syaibani. Mengapa ia melakukan hal demikian? Diceritakan bahwa hal ini dilakukan oleh Ma’n bin Zaidah saat marah karena saudaranya memimpin Kota Tarim secara fasik dan melakukan pertumpahan darah, lalim kita mungkin menyebutnya. Atas kelaliman itulah ia diperangi oleh para penduduk yang berakhir dengan terbunuhnya saudara Ma’n bin Zaidah. Pembunuhan inilah yang menyebabkan kemarahan dari Ma’n bin Zaidah dan menutup mata air di Kota Tarim.

Dikatakan, pada saat yang lepas lalu ada seseorang dari wilayah Maghribi (Maroko) datang berkunjung ke Kota Tarim dan berkata pada raja yang sedang bertahta disana.

Aku melihat di daerahmu ini banyak sekali mata air, jikalau engkau mau aku dapat tunjukkan tempatnya, aku dapat membukanya”, “Tunggu, aku berembuk hal ini terlebih dahulu dengan para shalihiin”, jawab sang raja.

Ketika sang raja melakukan perembukan dengan para shalihiin, mereka berkata, “Alangkah lebih baiknya Kota Tarim dhahirnya saja kering sebagaimana adanya”.

Sang raja menghadap pada tamu dari Maghribi dan memberikan titah,

Jangan engkau buka, biarkanlah sebagaimana adanya. Aku takut jika Kota Tarim begitu indah dengan banyak pohon akan berasak-asakan bagi raja yang lain untuk mendapatkannya

Kota Tarim mendapat julukan مدينة الصديق, dimaksudkan ialah Kotanya Sayyidina Abu Bakar ash-Shiddiq. Mengapa demikian? Diriwayatkan, pada masa yang telah lalu Rasulullah saw. mengirimkan utusan, Sahabat Ziyad bin Labid al-Anshari, sebagai amil zakat di wilayah Hadramaut. Setelah peristiwa pulangnya Rasulullah keribaan Allah Swt., Sayyidina Abu Bakar r.a. mengirimkan surat kepada Ziyad bin Labid mengenai kabar sendu pilu atas kewafatan Sang Kekasih –shallallahu alaihi wasallam– beserta kabar pembaiatannya sebagai khalifatur rasul. Pengiriman kabar ini ke seluruh wilayah pangkuan Islam sehingga menimbulkan dampak gerakan murtad dan pembangkang zakat. Namun, tidak demikian halnya dengan penduduk mulia Tarim, setelah dhuhur masuklah Ziyad bin Labid ke Kota Tarim mengabarkan perihal kabar kewafatan Rasul saw. dan pembaiatan Abu Bakar –radhiyallahu ‘anhu– tanpa disangka seluruh rakyat Tarim mengakui dan menerimanya.

Kabar gembira penerimaan masyarakat Tarim segera sampai pada Abu Bakar oleh Ziyad di Madinah al-Munawwarah. Ia mengabarkan bahwa terdapat kota kecil yang menerima pembaiatan tanpa melakukan undur diri dari iman Islam (baca: Murtad) dan tanpa adanya pembelotan membayar zakat, itulah Tarim. Sayyidina Abu Bakar r.a. sujud syukur. Beliau r.a. melambungkan tiga macam doa dan inilah yang menyebabkan langgengnya keistimewaan dalam kota ini.

أن تكون معمورة وأن يبارك في ماءها وأن يكثر فيها الصالحون

Ya Allah, jadikanlah kota tersebut kota yang makmur, berkahilah air didalamnya dan perbanyaklah didalamnya orang-orang saleh sebagaimana banyaknya tumbuhnya rumput

Adapula riwayat yang lain mengenai doa beliau r.a.

أن يكثر بها الصالحون وأن يبارك الله فيما بها وأن لا تطفأ بها نار الى يوم القيامة

Ya Allah, perbanyaklah didalamnya orang-orang yang saleh, berkahilah apa-apa yang ada didalamnya dan jangan padamkan api didalamnya hingga hari Kiamat

Kota Tarim juga berjuluk bumi seribu wali. Hal ini sebagai lambang banyaknya wali yang tumbuh dan wafat di tanah itu, bahkan dikatakan anak kecil Kota Tarim tidaklah tumbuh kumisnya kecuali mereka telah kasyaf, menjadi orang saleh yang mampu membaca hati seseorang. Di Kota Tarim, tidak dipakaikan imamah hingga ia telah menyelesaikan kitab Bidayatul Hidayah, salah satu master piece Imam Abu Hamid Muhammad bin Muhammad al-Ghazali yang mashur di pesantren-pesantren Indonesia.

Kota ini juga memiliki nama بلاد الطب, Kotanya Obat. Obat bagi hati dan badan, pemberian julukan ini oleh al-Habib Umar al-Muhdlor bin Abdurrahman Assegaf (wafat 838 H), sehingga dikatakan olehnya

شوارعها شيخ لمن لا له شيخ

Jalanan di Kota Tarim ialah guru bagi orang yang tidak memiliki guru

Al-Habib Ahmad bin Hasan al-Attas ditanya mengenai maksud kalam diatas, dan dikatakan “Jika kamu datang ke Kota Tarim, saat engkau di tengah jalan pastilah akan kau temukan seseorang yang menunjukkan kebajikan padamu”.

Terdapat pula yang menjulukinya مدينة الحفاظ, Kota Penghafal al-Quran. Dikatakan seluruh manaqib yang ada di Kota Tarim tertulis

 . “ولد في تريم وحافظ القرأن العظيم

Inilah Kota Tarim yang dikatakan oleh seorang alim bahwa ulama, auliya serta segenap penduduknya adalah sama seluruhnya, baik sisi akhlak, budi pekerti, penghafal quran, dsb, yang membedakan satu sama lain ialah karamah yang dimilikinya.

Terlepas dari seluruh kekhususan dan sisi spesial dari Kota Tarim, Lembah Hadramaut, dan Negara Yaman, telah disabdakan dari Rasulullah saw.,

أتكم أهلُ اليمنِ, هم أرقّ قلوبًا, الإيمانُ يمانٍ, الفقهُ يمانٍ, الحكمةُ يمانيّةٌ

Telah datang pada kalian penduduk negeri Yaman, mereka ialah yang paling lembut hatinya. Iman ada pada Yaman, fiqh ada pada Yaman dan hikmah ada pada Yaman4

اللّهمّ بارك لنا في شمِنا اللّهمّ بارك لنا في يمننا

Ya Allah, berkahilah kami pada negeri Syam kami, Ya Allah berkahilah kami pada negeri Yaman kami5

يوشك أن يطلع عليكم أهل اليمن, كأنها قطع السحاب أوقطعة سحاب, خيارمَن في الأرض

Nyaris ahli (penduduk) Yaman melebihi kalian, mereka layaknya gumpalan awan, mereka ialah sebaik-baik orang-orang bumi6

قد خاءكم أهل اليمن, هم أرقّ منكم قلوبًا. قال أنس: وهم أوّل من جاء بالصافحة

Sungguh telah datang pada kalian rakyat Yaman, mereka paling lunak diantara kalian hatinya. Anas berkata: dan merekalah yang mengusung adanya berjabat tangan7

Adapula hadis yang menerangkan keadaan tentara akhir zaman yang muncul, salah satunya di daerah Yaman8 dan masih banyak lagi hadis-hadis Nabi saw. yang menerangkan kemuliaan, kekhususan, keistemewaan dan keagungan Lembah Hadramaut.

Wallahua’lam

Gambar Kota Tarim Oleh Yusuf Sheikh Abdullah

 

CATATAN KAKI

1] Ahmad bin Hasan bin Abdullah bin Alwi al-Haddad, al-Fawaid al-Saniyyah fii Dzikri Nubdah min Fadhail Nisbah Man Yantasib ila al-Silsilah al-Nabawiyah (Tarim: Markaz al-Nur, 2008), 103.

2] Ibid., 46-47.

3] Ibid., 105.

4] Diriwayatkan oleh Abu Hurairah, muhaddits Syu’aib al-Arnauth pada Takhrij al-Musnad. Hadis ini di nilai memiliki sanad yang sahih atas syarat syaikhani (Bukhari dan Muslim). Hadis ini dikeluarkan juga oleh Imam Bukhari dalam Shahih-nya, Imam Muslim dalam Shahih-nya, Imam Tirmidzi, Imam Ahmad. (dalam al-Mausu’ah al-Haditsiyah www.dorar.net)

5] Diriwayatkan oleh Abdullah bin Umar, muhaddits Ibnu Hibban pada Shahih Ibnu Hibban. Hadis ini dikeluarkan juga oleh Imam Bukhari dan Imam Ahmad. (dalam al-Mausu’ah al-Haditsiyah www.dorar.net)

6] Diriwayatkan oleh Jabir bin Mut’im, muhaddits al-Bushiirii pada Ittihaf al-Khairah. Hadis ini dinilai periwayatannya tsiqah. (dalam al-Mausu’ah al-Haditsiyah www.dorar.net)

7] Diriwayatkan oleh Anas bin Malik, muhaddits Syu’aib al-Arnauth pada Takhrij al-Musnad. Hadis ini di nilai memiliki sanad yang sahih atas syarat Imam Muslim. Hadis ini dikeluarkan juga oleh Imam Abu Dawud, Imam Nasai dan al-Sunan al-Kubra dan Imam Ahmad. (dalam al-Mausu’ah al-Haditsiyah www.dorar.net)

8] Diriwayatkan oleh Abdullah bin Hiwalah, muhaddits Ibn Rajab pada Fadhail al-Syam li Ibn Rajab. Hadis ini dinilai memiliki banyak jalur periwayatan. (dalam al-Mausu’ah al-Haditsiyah www.dorar.net)

Penulis : Rachmad Hidayat

Editor   : Admin Ve

Yuk stay tune untuk informasi menarik lainnya ..
———————————————
⬇️ Kepoin + Support Kami di sini ⬇️
IG : @hmppaiftk_uinsa
FB : hmppaiftkuinsa
Web : hmppaiftkuinsa.or.id
Yt : HMP PAI UINSA OFFICIAL
———————————————

🌸 Salam PAI 🌸
Intelektualis. Agamis. Humanis.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *