BEJAT BANGKIT

BEJAT BANGKIT

Zakiyatul Nisa’

Mahasiswa PAI 18′ UIN Sunan Ampel Surabaya

Angin kian mencekam, pohon nampak menggugurkan buah hatinya, bercucuran tangisan tak berdarah membasahi bumi pertiwi. Jikalau penyesalan tumbuh diawal kejadian ini tak akan melanda keluarga Bejat yang pernah disanjung bagaikan dewa oleh semua orang di Sura. Sura ini merupakan pulau kecil jauh dari ibu kota. Sura ini dulunya dipimpin oleh ayahnya Bejat -sebut saja Bowo yang kini karena ulahnya membuat semua keluarganya tinggal di pagar besi berukuran 2×4 m kecuali Bejat yang harus direhabilitasi karena menyerap obat terlarang dalam tubuhnya yang kurus itu. Terlihat berbeda sekali saat Bejat masa jayanya dulu. Bejat bernama asli Tegar yang memiliki ketampanan bagaikan Arjuna. Banyak kaum hawa yang ingin menjadi Sintanya. Mungkin kalian yang baca cerpen ini juga akan jatuh cinta dengannya. Bagaimana tidak, selain memiliki ketampanan seperti Arjuna ia juga memiliki suara yang amat merdu. Jika ia berkumandang dimasjid semua masyarakat berlarian terpoyoh-poyoh menuju masjid untuk beribadat kepada sang kuasa pemilik segalanya seraya mendengarkan suara anak pemimpinnya didaerahnya itu. Tegar sudah mendapatkan banyak prestasi baik nasional bahkan internasional pernah dicicipinya. Ia terkenal orang yang merunduk bahkan dijuluki Ustadz diSura itu. Walaupun masih seperti terong akan tetapi tausiyahnya di cintai banyak kalangan. Kecintaan penduduk Sura berbalik terbalik bagaikan langit dan bumi dengan Ayahnya yang mana beliau membesarkan Tegar dengan harapan berkecipung dengan meja panas. Memang harapan satu-satunya hanya di Tegar karena kedua saudarinya masih terjun di dunia SMP dan satunya menuntut ilmu ke Pondok Pesantren guna menggali ilmu agama yang diinginkan. Di dunia Tegar ingin berdakwah, membangun Pesantren, bukan membangun program janji-janji yang hanya muncul di mulut dan hilang ditelan hamparan angin. Meskipun Tegar anak pemimpin di Sura, ia tidak segan-segan mencukil janji yang dibuat ayahnya itu ketika papan putih menjadi saksi kemenangan Pak Bowo. Bahkan Tegar pernah memberontak di meja panas itu bersama penduduk Sura guna menagih omongan yang di buat. Sikap Tegar meskipun di dunia politik melawan ia tetap memiliki kejiwaan yang merunduk dengan tidak mencampurkan masalahnya dengan hubungan darahnya. Memang pada masa itu, Sura mengalami Gerundang yang panjang, padi mengering, air mulai hilang dibawa orang berjas hitam dengan nafsunya sehingga penduduk harus membeli air dari orang tak tau malu itu. Itu terjadi dimulai perjanjian hitam diatas putih oleh pak Bowo dengan berjas hitam. Yah karena kertas itu, membuat penduduk melarat dengan sendirinya. Tegar yang tidak bisa diam melihat penduduknya sengsara, ia tidak segan-segan mengingatkan kepada ayahnya dengan baik baik.

“Yah, turunlah dari mejamu ini, lihatlah rakyatmu yang sengsara karena ulahmu, mungkin dengan ayah menatap raut mukanya hatimu mulai berbisik untuk membeerhentikan kontrak itu”. Ujar Tegar ketika makan malam menyantap dimeja makan yang megah. Seketika terdengar pyarrr seperti kemarahan yang dituangakan dengan segelas yang tak berdosa itu.

“kamu itu masih kecil tidak tau apa-apa dunia meja panas ini, ayah menyuruhmu untuk terjun ke meja panas akan tetapi kau lebih memilih dengan tausiyahmu itu”. Sepertinya itu kemarahan pertama kalinya Pak Bowo ke Tegar yang selama ini dipendam dan membludak pada malam itu. Suara hati Pak Bowo membsisikan rencana agar anaknya tidak melawan dan menghancurkan harapan yang diidamkan selama beberapa tahun. Oh ya, pak Bowo ini memiliki istri yang cantik sekali akan tetapi ia harus memenuhi panggilan tuhannya satu tahun yang lalu. Mungkin karena kehilangan istri yang sangat diicintainya itu membuat Pak Bowo linglung dengan tugasnya dan tanggung jawabnya. Yah memang istri pak Bowo selalu menjadi tangan kanannya, mencarikan solusi disetiap masalah yang dihadapi meja panas itu. Sura pernah mengalami kejayaannya ketika Istri Pak Bowo masih hidup dan berubah menjadi hitam ketika Istrinya menutup usianya karena kanker yang diderita selama beberapa tahun.

Awan hitam kian menutup rapat di Sura itu, kekejaman penduduk untuk merampok, minum-minuman surga dunia kata mereka, uang panas menjadi santapan setiap detik. Hati Tegar mulai teriris-iris melihat Suranya berubah menjadi neraka dunia baginya. Ia, tidak bisa tinggal diam melihat hal itu semua terjadi, satu sisi mereka berjuang untuk mendapatkan air yang kian semakin sulit didapat, sisi lain dunia hitam menutupi mata hati penduduk Sura itu. Ayahnya kini semakin membabi buta dengan uang panas didapat dari orang berdasi hitam yang membuat penduduk semakin melarat. Hidup Tegar semakin tidak berdaya, ia memikirkan masa depan Sura yang malang itu. Tegar berjalan linglung seperti tidak bernyawa.

“Kakak”, ….. terdengar bising di telinga Tegar. Ia bergegas menoreh kepalanya kebelakang dan terkejut itu suara dari kedua adeknya yang rindu suasana rumahnya. Yah meskipun adeknya ada yang di SMA ia tak pernah pulang kerumah, ia lebih memilih tinggal di asrama yang tua dan penuh kedamaian. Linglung Tegar langsung hilang seketika ketika kedua adeknya itu menghampiri kakaknya.

“kakak baik-baik saja kan”. Ujar Sonia gadis yang terkenal lugu, pintar, hafidzoh, dan santriwati terbaik dipondoknya. Tegar hanya senyum dengan lesungnya itu. Sonia dan Mona berjalan bersamaan dengan kakaknya itu. Sesampai dirumahnya itu, mereka semua terkejut ketika melihat ayahnya bermain panas dengan wanita dirumahnya. Menjijik sekali untuk dipandang. Pak Bowo dengan wajah tak berdosa itu langsung membawa masuk wanita itu kepulau kapuk. Sonia dan Mona linglung tak berdaya melihat kejadian itu. Mereka berdua tanya kepada Tegar mengapa ayahnya sampai melakukan hal sekeji itu dan kenapa tidak di tegor atas perbuatannya. Tegar menceritakan kejadian dari meja panas sampai akarnya. Sonia dan Mona tidak habis fikir bisa mendapatkan cobaan sebesar itu. Mereka berdua berfikir cepat mencari jalan solusinya atas masalah yang ada. Akan tetapi, Tegar mencegah kedua adeknya untuk melakukan hal apapun cukup mereka mensupport kakaknya agar kuat menjalani cobaan berat itu. Sonia dan Mona setuju atas permintaan kakaknya itu, ya mungkin atas balas budi bakti adek kepada kakaknya yang selama ini permintaannya selalu dituruti oleh kakaknya itu.

Keesokan harinya, ketiga saudara itu mulai melakukan strateginya yang disusun oleh kakaknya semalam itu.

“klutak, klutak, klutak….”, Bunyi sepatu Pak Bowo dari kejauhan terdengar, Mona mulai melakukan dramanya.

“Auuuu sakit”, pura-pura jatuh dari tangga , mendengar suara teriakan anaknya itu, Pak Bowo bergegas laari menghampiri anaknya.

“Kenapa kamu bisa jatuh dari tangga anakku?”, terlihat wajah khawatir di mimik mukanya Pak Bowo, tanpa sadar ia melupakan gadis yang dibawanya dari kemarin sikap Pak Bowo yang dingin dan berpaling dengan anaknya gadis itu tiba-tiba guram melihat sikap Pak Bowo dan ia berjalan-jalan hendak meninggalkan rumah itu sambil melototi Mona.

“Aku tidak apa-apa ayah hanya terpeleset dari tangga”, jawab Mona sambil mencibir gadis itu. Dalam hatinya ia berhasil melaksanakan acting yang di sutradarai oleh kakaknya itu. Tapi, Pak Bowo tak percaya dengan ucapan anaknya itu, akhirnya ia telfon dokter rumahnya agar memeriksa anaknya itu dan Mona langsung dibawa kekamar oleh ayahnya dengan penuh kasih sayang, ini momen yang ditunggu oleh semua anak. Dalam hatinya ia tidak khawatir diperiksa dokter karena sebelumnya sudah diatur oleh sutradara yang mahir itu. Dokter itupun datang dan memeriksa keadaan Mona, acting dokter itu memang mirip di sinetron ftv ia bilang ke pak Bowo agar menjaga setiap detik anaknya itu karena suatu saat akan kambuh nyerinya. Pak Bowo dengan wajah polosnya itu percaya dengan ucapannya itu. Setelah dokter itu pergi, pak Bowo meelepaskan jasnya yang selama ini disanjungkan dan seketika ia merintihkan air mata. Ia sadar apa yag dilakukan selama ini itu salah dan ia meminta maaf kepada Mona. Si gadis itu ikut mengalirkan benih-benih air dimatanya dan berharap semoga ayahnya cepat memperbaiki atas semua kesalahannya yang dibuat.

Disisi lain, Tegar dan Sonia terjerat dalam neraka dunia itu. Awalnya niat mereka baik untuk mengingatkan agar berhenti melakukan perbuatan yang tak elok dipandang. Hingga suatu ketika Tegar meminum air panas itu agar bisa merasakan apa yang mereka alami. Derita yang selama ini dipendam oleh penduduk itu akhirnya tau, mereka kecewa atas kepemimpinan ayahnya itu. Mengapa mereka sampai melakukan hal yang tak semono itu, karena pak Bowo dalam meja panasnya ia selalu mengkonsumsi barang haram, bermain dengan banyak perempuan, merampok hasil penduduk dengan merebut air yang menjadi sumber utama dalam pertanian. Ketika ada perjanjian hitam diatas putih itu, hidup mereka seakan-akan sudah tiada, tak berdaya akhirnya itu jalan satu-satunya agar kelak tempat yang kotor ini dibersihkan oleh pemimpin yang baik. Ketika mereka menyuarakan suaranya atas melaratnya ke meja panas itu, Pak Bowo tak menggubris seperti angin yang berlalu. Setelah mendengar pernyataan itu, Tegar dan Sonia semakin meminum air neraka itu, mengkonsumsi barang haram. Mereka berdua sadar apa yang dilakukan tidak seperti alur dalam skenario yang dibuat Tegar. Keadaan itu yang membuat mereka harus melakukannya, betapa malangnya mereka berdua sampai-sampai menjadi pecandu barang-barang haram.

Setelah kejadian itu, penduduk candu haram itu akhirnya sadar, seharusnya mereka tidak melakukan hal yang haram. Mereka membuang barang-barang haram itu, akan tetapi si Tegar dan Sonia mereka mengambilnya dan dibuat pesta dunia setiap harinya. Penduduk setempat guram melihat sikap kedua anaknya Bowo sampai di juluki bocah-bocah Bejat, karena setiap harinya hanya meminum dan makan barang haram. Kejadian itu sampai ke telinga Pak Bowo dan Mona, mereka sok mendengar berita yang yang buruk. Keduanya berlarian menuju bocah Bejat itu, sesampainya ditempat neraka dunia mereka berdua nangis tersedu-sedu dan memeluk erat bagaikan buah pisang yang di selimuti kulitnya. Tegar dan Sonia merintihkan air mata bahagia seakan-akan rencananya berhasil meskipun ia harus menanggung dosa yang dibuat. Sudah cukup derita kalian ini semua gara-gara ulah ayah, terucap dari lidah tak bertulang milik pak Bowo itu. Ayah sekarang akan memundurkan dari meja panas yang kalian sebut itu, ayah tidak akan melarang Tegar untuk berdakwah dan mewujudkan impiannya untuk membangun pesantren, Sonia dan Mona kalian harus melanjutkan pendidikan yang lebih tinggi seperti kakak kalian. Mereka semua menangis tersedu-sedu. Kebahagian yang kecil itu hilang seketika ketika mobil abu-abu bertulis Police mendatangi tempat itu dan membawa beberapa brogol.

“Selamat siang, kami mendapat laporan dari beberapa penduduk di Sura ini kalau pak Bowo melakukan korupsi , dan anak-anaknya mengkonsumsi barang yang di larang untuuk itu kami akan menangkap kalian semua dan silahkan jelaskan di kantor polisi”, suara bapak polisi yang terdengar sserak-serak basah itu. Tanpa mengucapkan satu kata mereka semua menyerahkan dirinya kecuali Tegar dan Sonia yang harus di rehabilitasi terlebih dahulu untuk menghilangkan kecanduan barang haram. Yah meskipun Tegar dan Sonia di rehabiliasi mereka mulai mengatur kembali apa yang menjadi tujuannya dengan berdakwah dan menyebarkan kebaikan-kebaikan sesama kawan rehabilitasi. Mungkin itu tujuan yang terselip yang menjadi rahasia besar mengapa mereka nekad melakukan hal yang haram walaupun dilakukan dengan sadar. Disisi lain Mona mulai memakai hijabnya dan Pak Bowo mulai belajar mengaji dan menghafalnya. Itulah kehidupan tidak semua berjalan lurus, kelak akan jumpa jalan yang berlubang-lubang yang harus dilalui dan diperbaiki.