Tau Gak Sih ??

Ada PEMBUNUH masuk SURGA!!!

Tubuhnya menjulang tinggi besar dan legam, matanya teramat putih mungkin karena takut akan hukumanmu, sementara engkau berusaha untuk mengenalinya. Orang-orang berkata “Ya Rasulullah, Inilah Wahsyi orang yang membunuh Hamzah”. Dan mengalirlah sebuah cerita, saat tombak menembus tubuh Hamzah dan membuatnya kehilangan nyawa, “Kemudian aku merobek hatinya dan kuserahkan pada Hindun”, ucap Wahsyi lirih ketika kau tanyakan kejadian saat perang itu. Engkau menyimak dengan saksama, kemudian beliau berkata “Celaka, Pergilah dariku. Jangan sampai aku melihatmu lagi”. Kau pernah berkata, bahwa keislaman seseorang lebih engkau sukai daripada membunuh seribu orang kafir. Kini, pembunuh itu masuk Islam dan engkau masih merasakan dentum hebat mengguncang dadamu. Wahai Rasul, kami tau engkau kecewa, dan engkau lebih memilih diam tanpa membalas apapun terhadapnya. Bagaimana statusnya dalam hidupmu wahai Rasul?


Wahsyi bin Harb (Abi Dasamah) dari Ethopia merupakan seorang budak Jubair bin Mut’im yang dijanjikan merdeka oleh Hindun istri Abu Sufyan dengan syarat mampu membunuh Hamzah paman Nabi Muhammad SAW untuk membalaskan dendam ayahnya (Utbah bin Rabi’ah) yang terbunuh saat duel Perang Badar. Nama Wahsyi menjadi begitu terkenal setelah ia berhasil membunuh ‘Singa Allah’, Hamzah bin Abdul Muthalib. Setelah dibebaskan ia tinggal di Makkah dan berpindah ke Thaif (dalam riwayat lain Yaman) setelah peristiwa Fathu Makkah terjadi.

Tak berselang lama, ternyata sayap Islam telah sampai di Thaif membuat Wahsyi berpikir untuk pindah ke suatu tempat yang lain, namun ia kemudian mendengar bahwa Islam mengampuni segala kesalahan dan dosa-dosa di masa lalu jika seorang kafir memeluk Islam. Mendengar kabar seperti itu, Wahsyi berangkat ke Madinah. Di hadapan Rasulullah ia menyatakan diri masuk Islam. Namun, begitu mengetahui Wahsyi adalah pembunuh pamannya, Hamzah, Rasulullah memalingkan mukanya dan tidak mau melihat wajah Wahsyi. Hal itu terjadi sampai beliau wafat. Walaupun Wahsyi tahu bahwa Islam menghapus dosa-dosanya yang telah lalu, tapi ia tetap menyesal. Ia tahu, musibah yang ia timpakan kepada kaum Muslimin saat itu sangat besar dan keji. Ia telah membunuh seorang pahlawan Islam secara licik dan tidak jantan. Karena itu, Wahsyi selalu menunggu kesempatan untuk menebus dosanya.

Setelah Rasulullah wafat, pemerintahan beralih ke tangan Abu Bakar Shiddiq RA. Di bawah pimpinan Musailamah, Bani Hanifah dari Nejed, murtad dari agama Islam. Khalifah Abu Bakar menyiapkan bala tentara untuk memerangi Musailamah dan mengembalikan Bani Hanifah ke pangkuan Islam. Wahsyi tidak menyia-nyiakan kesempatan itu. Bersama pasukan yang dipimpin oleh Khalid bin Walid, ia berangkat ke medan Yamamah. Tidak lupa lembing yang ia pakai untuk membunuh Hamzah, ia bawa. Dalam hati ia bersumpah akan membunuh Musailamah atau ia tewas sebagai syahid.

Ketika kaum Muslimin berhasil mendesak Musailamah dan pasukannya ke arah Kebun Maut, Wahsyi termasuk salah seorang yang selalu mengintai nabi palsu itu. Saat Al-Barra’ bin Malik berhasil membuka pintu gerbang pertahanan musuh, Wahsyi dan kaum Muslimin tumpah ruah menyerbu markas Musailamah. Seorang Anshar turut mengincar Musailamah seolah-olah tidak boleh ada orang lain yang mendahuluinya. Wahsyi bin Harb melompat ke depan. Setelah berada dalam posisi yang tepat, ia bidikkan lembingnya ke arah sasaran. Begitu dirasa tepat, Wahsyi melemparkan senjatanya! Lembing melesat ke depan mengenai sasaran. Pada saat yang sama, prajurit Anshar yang sejak semula turut mengincar, melompat secepat kilat dan memukul leher Musailamah dengan pedangnya.

Hanya Allah-lah yang Mahatahu, siapa sebenarnya yang membunuh Musailamah. Wahsyi atau prajurit Anshar? Jika benar yang membunuhnya adalah Wahsyi, berarti ia telah menebus kesalahannya membunuh Hamzah bin Abdul Muthalib dalam Perang Uhud. Apakah ganjaran orang yang telah membunuh musuh Islam kecuali surga?

Begitulah kisah Wahsyi, seorang budak pemberani yang mencoba menebus dosanya, dengan tombak nya ia telah membunuh manusia terbaik, dengan tombak itu pula ia membayar apa yang telah dilakukannya pada masa lalu dengan membunuh manusia terburuk yang mengaku sebagai nabi palsu yakni Musailamah al-Kazzab.

Dari kisah ini kita mampu mengambil sebuah pelajaran bahwa Allah Swt memberikan motivasi bahwa ampunan-Nya itu selalu terbuka. Sesuai dengan kelembutan Allah Swt dalam firman-Nya sebagai berikut:

قُلْ يٰعِبَادِيَ الَّذِيْنَ اَسْرَفُوْا عَلٰٓى اَنْفُسِهِمْ لَا تَقْنَطُوْا مِنْ رَّحْمَةِ اللّٰهِ اِنَّ اللّٰهَ يَغْفِرُ الذُّنُوْبَ جَمِيْعًا اِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْم

“Katakanlah, “Wahai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri! Janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sungguh, Dialah Yang Maha Pengampun, Maha Penyayang”. (Q.S Az-Zumar: 53).

Semoga dengan kisah ini kita mampu menjadi pribadi yang lebih baik lagi dengan selalu optimis untuk berbuat kebaikan dan menebus kesalahan-kesalahan di masa lalu. Be Optimis, and Never Forget that Allah is Forgiving and Merciful.

 

Source  : Tasaro GK, MUHAMMAD: Lelaki Pengeja Hujan (Bandung: Bentang Pustaka), 2011.

Penulis : Muhammad Salman Alfarizi

Editor   : Admin Maman


Yuk stay tune untuk informasi menarik lainnya ..
———————————————
⬇️ Kepoin + Support Kami di sini ⬇️
IG : @hmppaiftk_uinsa
FB : hmppaiftkuinsa
Web : hmppaiftkuinsa.or.id
Yt : HMP PAI UINSA OFFICIAL
———————————————

🌸 Salam PAI 🌸
Intelektualis. Agamis. Humanis.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *