GALERI PENA

Ramadan: Panggilan Berdoa

Oleh : Sarfaraz

Ramadan telah menyapa kita semua, sebagaimana telah difirmankan oleh-Nya dalam al-Baqarah ayat 183,

يٰاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُوْنَ

Allah telah memanggil lembut segenap hambanya, “Wahai orang-orang yang beriman”. Namun, menjadi tanda tanya mengapa menggunakan ‘aamanu’ bukan ‘mu’minun’?

 

Bukan dalam pola kalimat bahasa Arab akan dijabarkan, melainkan kita tilik dari maknanya dengan permisalan. Makna susunan ‘alladzina amanu’ menggunakan isim maushul dan fi’il madhi diibaratkan orang yang bernyanyi, sedangkan makna‘mu’minun’ diibaratkan penyanyi. Pertanyaannya, suara siapa paling bagus? Siapa yang paling tahu tentang nyanyian? Jawabannya, penyanyi. Disebut penyanyi karena indahnya suara; pengetahuan musik yang mumpuni; dsb.

 

Itulah ayat Al-Baqarah, Ia tidak menggunakan ‘mu’minun’ sebagai kekhususan, melainkan ‘alladzina amanu’ untuk memanggil siapapun yang merasa memiliki iman dalam hatinya. Ia memanggil orang-orang beriman dalam keumuman kalimat, puasa untuk awam; untuk alim; untuk tua; untuk muda; untuk hati yang diliputi iman kepada-Nya.

 

Mulia dan khususnya Ramadan kita sudah mendengar sabda Sang Utusan, doa seorang yang puasa tak akan tertolak. Sulthanul Ulama Imam Izzuddin bin Abd Salam pun dalam Maqashidus Shaum nya menyatakan puasa dapat mengangkat derajat, menghapus kesalahan, menghancurkan syahwat dan seluruh keutamaan serta penjelasannya lainnya. Dengan kemuliaan bulan ini dan kekhususan umat Rasulullah, tidak cukupkah kita bermalas-malasan dalam 11 bulan yang lalu?! Apakah masih kurang 330 hari yang sudah berjalan diisi dengan hati yang lalai?!

 

Tidak asing telinga kita dengan ayat “dan apabila segenap hamba-Ku bertanya pada engkau, wahai Muhammad, mengenai diriku, maka sungguh Aku dekat. Ku kabulkan doa sesiapa yang berdoa, bila ia memohon pada-Ku”, dimana letak ayat ijabahnya doa ini? Al-Baqarah ayat 186. Ayat ini sungguh berada diantara ayat-ayat puasa. Ayat 185 menerangkan kejadian dalam Ramadan dan pentingnya berpuasa, sedang ayat 187 menerangkan aturan Ramadan.

Apakah tidak cukup penempatan ayat-Nya ini sebagai penunjuk luar biasanya kedudukan doa dalam agungnya bulan pengampunan ini?

 

Masyhur doa zikir witir yang diawali syahadat sebagai bukti keimanan, disusul permintaan maaf poin utama, diikuti meminta surga dan perlindungan dari neraka,

أشهد أن لا إله إلا الله, استغفر الله, نسألك الجنّة ونعوذ بك نن النّار

 

Cerdasnya ulama yang telah lalu menambah kata ‘rida-Mu’ dan ‘murka-Mu (sakhatika)’ agar betul-betul memahami esensi ibadah, sebab cara pandang jannah sebagai tempat rida-Nya dan naar sebagai tempat murka-Nya kaum bijak bestari dengan para awam berbeda.

 

Kesadaran yang mengendur, ayat yang terlupakan, semoga bisa menjadi penegak kebaikan dalam sabdanya, barang siapa yang mengerjakan puasa dan menghidupkan bulan Ramadan disertai iman dan ketulusan maka diampuni segala silap yang telah lalu.

 

———————————————————————

✨Salam PAI✨



-Intelektualis.Agamis.Humanis-

———————————————————————

⬇Info menarik lainnya klik dibawah ini⬇

Satu Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *